A.
Sekilas
tentang Otak
OTAK kiri dan kanan memiliki fungsi yang berbeda.
Perhatikan hal ini untuk mengetahui cara mengoptimalisasikan fungsi kedua otak
demi kecerdasan anak. Otak kiri terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat
teratur, berurutan, rinci, sistematis, dan matematis. Otak kanan mengendalikan
aktivitas yang bersifat berfikir divergen
(meluas), imajinasi, ide-ide, kretivitas, emosi, musik, spiritual, intuisi,
abstrak, bebas, dan simultan.
Selain nutrisi, stimulasi memegang peranan sangat
penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. Stimulasi diperlukan agar hubungan
antar sel syaraf dan otak (sinaps) dapat
berkembang.
“Penting untuk
diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunaka. Karena
itu, jika kita menginginkan anak dengan kecerdasan multiple harus dilakukan
perangsangan (stimulasi) sejak dini dalam kandungan sampai umur tiga tahun
terus-menerus, setiap hari, penuh kasih sayang, penuh kegembiraan bervariasi
dan teratur, serta merangsang otak kiri dan kanan bersama-sama,” tutur
Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dalam seminar berjudul Nutrisi dan Stimulasi
untuk Kecerdasan Anak.
Banyak hal yang dapat dilakukan orangtua untuk
memberikan stimulasi pada anak, mulai dari memberikannya senyuman, menciumnya,
bermain, hingga memberikan pijatan khusus guna merangsang syaraf motorik,
memperbaiki polaa tidur, membantu pencernaan, dan menyehatkan otot-otot bayi.
Selama tidak membahayakan, hindari melarang anak
yang berumur dibawah tiga tahun dalam mengerjakan sesuatu. Bila anak terlalu
sering dilarang oleh orangtua, kreativitas anak tidak bisa berkembang dengan
baik.
1.
Otak
Rasional (IQ)
IQ (intelligence
Quotient) dapat diartikan dengan kemampuan seseorang dalam beradaptasi
dengan lingkungan dengan menggunakan akal sehat. Kesuksesan masa depan
seseorang individu (anak) cenderung diukur dengan kecerdasan intelektual atau
dikenal dengan IQ. Bila anak memiliki IQ yang tinggi, ia pun dianggap memiliki
harapan masa depan untuk sukses dibanding dengan anak yang memiliki IQ yang
rendah dan sedang. Namun lambat laun teori itu menjadi perdebatan di antara
ahli-ahli psikologi perkembangan. Pada kenyataannya individu yang memiliki IQ
yang tinggi tidak selalu sukses, malah sebaliknya, individu yang memiliki IQ
rendah dan sedang mampu meraih sukses dengan sempurna. Sepertinya dalam kasus
ini, terdapat kejanggalan. Kejanggalan tersebut disikapi sepenuhnya oleh Daniel
Golemen ahli psikologi perkembangan dari Harvard University, Amerika Serikat.
Hasil penelitian Golemen yang dituangkan dalam
bukunya “Emotional Intelligence” yang
diterbitkan tahun 1995, mengenai kecerdasan lain dalam jiwa manusia adalah
adanya kecerdasan emosional. Dan menurut Kisdarto Atmosoeprapto dalam bukunya “Temukan Kembali Jati Diri Anda”
menyebutkan bahwa dengan munculnya kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan
kognitif (IQ) bukan lagi segalanya, tidak lagi menjadi pemain tunggal dan
bahkan bukan lagi pemain utama, karena kecerdasan kognitif (IQ) hanya
menentukan 20% perjalanan hidup, sisanya 80% ditentukan oleh kecerdasan
emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritualnya. Bahkan dalam hal
keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya berkontribusi empat persen.
Sebuah survey tehadap ratusan perusahaan di Amerika
Serikat, mengungkapkan bahwa kemampuan teknis/analis bukan hal yang menentukan
keberhasilan seorang pemimpin/manajer. Yang terpenting justru kemauan, keuletan
mencapai tujuan, kemauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerja sama dan
kemampuan memimpin tim.
Hasil identik juga disimpulkan dari penelitian
jangka panjang terhadap 95 mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Puluhan
tahun kemudian. Mereka yang saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual
tinggi, namun egois dan kuper, ternyata hidupnya tak selalu sukses (berdasar
gaji, produktivitas, serta status bidang pekerjaan) bila dibandingkan dengan
yang kecerdasan intelektualnya biasa saja tetapi mempunyai banyak teman, pandai
berkomunikasi, mempunyai empati, tidak temperamental sebagai manifestasi dari
tingginya kecerdasan emosi, sosial dan spiritual.
Otak rasional (IQ) tidak akan maksimal tanpa peran
otak emosional (EQ) dan otak spiritual (SQ). Rasionalitas dalam pembelajaran
harus melibatkan emosionalitas dengan cara mengemas materi pelajaran dengan
bentuk gambar, kata dan suara. Berdoa sebelum belajar adalah gerbang memasuki
dimensi emosi-spiritual.
2.
Otak
Emosional (EQ)
Otak emosional berpusat di dalam sistem limbik yang tumbuh dan berkembang
lebih awal dari cortex cerebri. Fungsi
sistem limbik adalah pengaturan emosi. Perkembangan otak manusia dimulai dengan
pikiran emosional sebelum pikiran rasional berfungsi, karena itu otak anak-anak
pada dasarnya adalah otak emosional bukan otak rasional. Atas dasar ini,
pembelajaran yang efektif pada anak-anak adalah stimulasi emosionalitas,
seperti memberikan rasa gembira, semangat, antusias dan lain-lain.
Hasil kerja otak emosional disebut kecerdasan
emosional. Goleman (1997) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan
untuk memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan
hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga
agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa.
Oleh karena itu suasana hati yang positif seperti
perasaan senang dan santai sebelum dan pada saat belajar akan mempertinggi
efektivitas belajar. Hentakan emosionalitas atas kebenaran sebuah materi
pelajaran berimplikasi pada semakin kuatnya ingatan siswa dalam menyimpan
materi pelajaran tersebut dalam jangka panjangnya.
Kecerdasan emosional terdiri atas lima wilayah yaitu
1) mengenali emosi diri; 2) mengelola emosi; 3) memotivasi diri; 4) mengenali
emosi orang lain; 5) membina hubungan. Dalam konteks pembelajaran, teknik
diskusi kelompok lebih memungkinkan peserta didik mengembangkan kelima wilayah
kecerdasan emosional tersebut daripada teknik atau metode lain.
Emotional
Intelligence (EQ) merupakan indikator non intelektual,
yang berupa sifat psikologis individu. Jika seorang anak menunjukkan sifat suka
menyendiri, perilaku yang abnormal, sulit bekerja sama, memiliki perasaan
rendah diri, sangat rapuh dan tidak mampu menghadapi rintangan, sering
menunjukkan ketidaksabaran, egois atau kurang memiliki kestabilan emosi,
semuanya mungkin saja mengindikasikan EQ yang rendah.
3.
Otak
Spiritual (SQ)
Otak spiritual tempat terjadinya kontak manusia
dengan Tuhan melalui alam pikiran dan hanya akan berperan jika otak rasional
dan pancaindera telah difungsikan secara optimal. Dengan demikian seorang
pencari ilmu tidak akan mendapatkan hidayah dari Tuhan jika ia tidak
memaksimalkan fungsi otak rasional dan pancainderanya. Pendidikan harus membuka
kesempatan lebar bagi pemenuhan rasa rindu untuk menemukan nilai dan makna dari
apa yang diperbuat dan dialami sehingga anak didik dapat memandang kehidupan
dalam konteks yang lebih bermakna.
Cara kerja otak spiritual disebut berfikir intuitif.
Hasil kerja dari kerja berpikir intuitif disebut kecerdasan spiritual (SQ).
Pada dasarnya SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan
khususnya terkait masalah hidup dan nilai (baik dan buruk). SQ yang kuat akan
menjadi landasan kokoh untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Salah satu cara untuk mengoptimalkan otak spiritual
(berfikir intuitif) adalah dengan melihat permasalahan secara utuh, mengkaji
dan merenungkannya secara mendalam. Berdoa dengan berbagai cara disetiap agama
merupakan sarana ampuh untuk mengoptimalkan otak spiritual. Cara ini akan
mendukung pemecahan masalah dengan otak emosional-intuitif-spiritual.
B.
Brain
Based Learning
1.
Pengertian
Brain Based Learning
Brain based learning adalah sebuah konsep untuk
menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi
otak siswa. Brain based learning merupakan sebuah model pembelajaran
siswa mengembangkan otaknya untuk memecahkan suatu permasalahan atau
mengembangkan suatu informasi yang diperolehnya. Dalam
pembelajaran brain based learning ada beberapa prinsip yaitu otak
adalah prosesor parallel yang berarti dapat melakukan beberapa kegiatan
sekaligus, seperti rasa dan bau, belajar melibatkan seluruh fisiologi,
pencarian makna, pencarian makna datang melalui pola, emosi sangat penting
untuk pola keseluruhan proses otak dan bagian-bagian secara bersamaan, belajar
melibatkan kedua memusatkan perhatian dan perifer persepsi, belajar melibatkan
kedua proses sadar dan tak sadar, hafalan, otak memahami fakta terbaik ketika
tertanam di dalam memori spasial, belajar ditingkatkan dan dihambat oleh
tantangan dan ancaman, serta setiap otak adalah unik. (Jensen, 2009: 1)
Dapat disimpulkan bahwa Brain Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran
yang memperhatikan perkembangan otak siswa. Yang dikembangkan dalam
pembelajaran bukan hanya sistem kognitif siswa, tetapi keseluruhan sistem dalam
otak.
Pengalaman penting, terutama pengalaman yang kita
peroleh saat masih anak-anak. Lingkungan yang menyediakan cinta dan memelihara untuk
anak-anak adalah salah satu hal paling penting yang didapat dari orang tua dan
pengasuh. Pengalaman yang dipelihara di awal hidup dapat meningkatkan IQ
seorang anak, suasana seperti itu hampir pasti akan membina rasa percaya
dirinya, dan itu sering akan memberikan awal yang lebih maju di sekolah. Tetapi
lebih penting dari semuanya itu, suasananya akan merekatkan ikatan cinta dan
rasa saling menghormati antara orang tua dan anak. Mereka yang bermain bersama
dan dengan demikian melakukan penjajakan, menemukan, tertawa, bergembira, dan
belajar bersama (permainan memang untuk menyediakan semuanya ini) mempunyai
ikatan persahabatan khusus. Lem kedekatan yang merekatkan seorang anak pada
pengasuhnya diperkuat ketika orang tua dan anak-anak bermain bersama. Bermain
itu menyenangkan, dan belajar lewat permainan memungkinkan seorang anak untuk
belajar dengan cara alami. Kegembiraan menimbulkan semangat optimal untuk
belajar.
Anak dalam minggu-minggu pertama hidupnya terlihat
seperti orang berukuran mini, tetapi pikirannya masih jauh dari terbentuk
sempurna. Otak bayi yang baru lahir mempunyai ukuran hanya kira-kira 1/3 dari
otak orang dewasa dan masih banyak neuron (sel otak) yang akan tumbuh serta
berjuta-juta interkoneksi antara neuron yang masih harus dibentuk. Bagian-bagian
dari otak yang mengendalikan proses vegetative seperti pernapasan, pencernaan
dan tidur, sudah matang, tetapi bidang-bidang otak yang berkaitan dengan
persepsi, tindakan, belajar dan memori masih jauh dari matang. Dalam beberapa
tahun kedepan, perlahan-lahan bergerak ke arah kematangan.
Pengalaman mempunyai pengaruh pada cara otak menjadi
matang. Hal ini dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa otak dari individu yang
kurang dapat stimulasi yang tepat mungkin tidak matang dengan cara yang sama seperti
otak dari orang yang mengalami stimulasi tersebut. Misalnya anak-anak yang
juling dalam tahun-tahun awal hidupnya juga tidak mempunyai pandangan binokuler
(3D), walaupun tidak seorang pun yang pernah memeriksa otak mereka, kita dapat
mengasumsikan bahwa mereka mengalami masalah serupa. Untuk berkembang secara
normal, sel-sel dari korteks visual harus menerima input dari kedua mata.
Kurangnya stimulasi mempunyai dampak pada
perkembangan otak, tetapi hal itu tidak berarti semua stimulasi baik. Tindakan
yang teliti harus selalu diambil untuk menyesuaikan aktivitas dengan
kepribadian anak dan suasana hatinya saat itu. Beberapa anak lebih berhati-hati
dibandingkan dengan anak yang lain, dan ada kalanya ketika anak kurang menyukai
perubahan. Beberapa anak menyukai kegairahan tingkat tinggi, anak-anak lain
lebih suka suasana tenang dan sunyi. Sehingga permainannya pun harus
disesuaikan dengan keadaan.
Bermain itu menyenangkan, dan belajar lewat
permainan memungkinkan seorang anak untuk belajar dengan cara alami, santai
yang paling cocok dengan dirinya.
2.
Prinsip
Brain Based Learning (Teori Konstruktivisme)
Prinsip Brain Based Learning didasarkan pada teori
konstruktivisme di mana dikatakan oleh Semiawan (2002:3-4) berpendapat bahwa
pendekatan Konstruktivisme bertolak dari suatu keyakinan bahwa belajar adalah
membangun (to construct) pengetahuan
itu sendiri setelah dicernakan dan kemudian dipahami dalam diri individu dan
merupakan perbuatan dari dalam diri seseorang. Pengetahuan itu diciptakan
kembali dan dibangun dari dalam diri seseorang melalui pengamatan, pengalaman,
dan pemahaman.
3.
Konsep
Penerapan Brain Based Learning
Craig (2007)
mengemukakan sejumlah konsep yang digunakan untuk menerapkan Brain Based
Learning, sebagai berikut:
a.
Pada fase orchestrated immersion (menciptakan
lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa)
Fase orchestrated immersion difokuskan untuk
membuat pokok bahasan dalam pembelajaran menjadi lebih bermakna dan bertahan
dalam ingatan siswa. Fase ini membantu siswa membuat pola dan berasosiasi
dengan otak mereka masing-masing saat mereka diberikan permasalahan yang kaya
pengalaman belajar, sehingga pembelajaran yang didapat akan lebih bertahan
dalam memori siswa (Ozden & Gultekin, 2008). Dalam setiap kegiatan
pembelajaran perlu dilakukan pemberian soal-soal materi pelajaran yang
memfasilitasi kemampuan berpikir siswa. Soal-soal pelajaran dikemas seatraktif
dan semenarik mungkin, misalnya melalui teka-teki, simulasi games, dan
sebagainya agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya
dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa (Sapa’at, 2007).
b. Pada fase relaxed alertness (menciptakan
lingkungan pembelajaran yang menyenangkan)
Untuk fase relaxed alertness, siswa ditantang
untuk memecahkan suatu permasalahan dengan baik tetapi meminimalisasi ancaman
yang didapat jika ia tidak dapat melakukan yang terbaik, karena hasil belajar
menjadi lebih tinggi ketika seseorang dalam keadaan nyaman tanpa ancaman (Ozden
& Gultekin, 2008). Pembelajaran dapat divariasikan dengan membawa siswa
belajar di luar kelas pada saat-saat tertentu, mengiringi kegiatan pembelajaran
dengan musik yang didesain secara tepat sesuai kebutuhan di kelas, kegiatan pembelajaran
dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan
upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa
(Sapa’at, 2007).
c. Pada fase active processing (menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan
bermakna bagi siswa)
Fase active processing dilakukan dengan membentuk
kelompok belajar yang memfasilitasi siswa agar siswa mampu menyerap informasi
dengan baik, tetapi siswa harus tetap diberikan penghargaan walaupun hasil
kinerjanya belum maksimal (Ozden & Gultekin, 2008). Siswa sebagai pebelajar
dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan
mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi
pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara
optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa
bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam
pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif
anggota badan lainnya.
Dalam pembelajaran sains yang menggunakan model
Brain Based Learning, guru dituntut untuk bisa menghubungkan pengetahuan yang
satu dengan pengetahuan lain, karena langkah tersebut membuat pembelajaran
siswa menjadi lebih bermakna dan membuat siswa merasa tertarik untuk belajar
(Ozden & Gultekin, 2008).
C.
Anak
adalah Makhluk Pembelajar
Semua anak mempunyai motivasi bawaan
sejak lahir untuk belajar yang diwujudkan dalam aktivitas gerakan. Dengan
mengoptimalkan gerakan, perkembangan otaknya semakin sempurna. Gerakan akan
memperkuat otot. Diantara perpaduan otak dan otot, Montessori menambahkan satu
motivasi bawaan lagi yaitu perasaan. Ketiganya harus bekerja secara kompak dan
seimbang sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing anak, sehingga guru
tidak bisa melarang dan harus mengikuti kehendak anak didiknya dan tidak boleh
memaksakan.
1.
Modalitas
Belajar
Cara otak
memproses informasi (cara otak belajar) berpengaruh terhadap tingkat berpikir
dan juga berpengaruh terhadap modalitas belajar anak. Modalitas belajar adalah
seni berpikir melalui kecenderungan masing-masing anak.
Mengingat sifat
setiap anak adalah unik dan berbeda-beda maka tidak mengherankan jika setiap
anak mempunyai gaya belajar tersendiri yang berbeda-beda pula. Ada tiga (3)
gaya belajar yang dapat dikenali, yakni visual, auditori dan kinestetik.
a. Gaya
Belajar Visual
Adalah
cara/model belajar dengan mengandalkan penglihatannya. Secara umum anak-anak
visual ketika bermain selalu bermain melalui hubungan visual, menggunakan media
seperti gambar, pensil, balok, pasak, puzzle.
Jika berbicara, anak-anak visual sering menggunakan kata-kata yang berkaitan
dengan penglihatannya seperti “tampaknya, kelihatannya, sepertinya”. Dalam
konteks anak-anak, biasanya anak visual sangat senang bermain menggunakan alat
permainan edukatif seperti berikut ini:
1)
Buku
dengan gambar full colour
2)
Balok susun
beraneka bentuk dan warna
3)
Puzzle beraneka bentuk dan warna
4)
Papan pasak
5)
Mencampur
warna
6) Computer
kids
7) Permainan bongkar pasang
8) Benda-benda geometri, dan lain-lain.
b. Gaya
Belajar Auditori
Adalah
cara/model belajar dengan mengandalkan pendengarannya. Anak-anak auditori
ketika bermain sangat senang diiringi dengan musik dan sangat bosan dengan
kesunyian dan keheningan. Dalam konteks anak-anak, biasanya anak auditori
senang bermain hal-hal sebagai berikut:
1)
Membaca
(jika telah mampu) dengan suara keras
2)
Banyak
bertanya kepada guru, tetapi senang menjawab pertanyaan temannya
3)
Lebih
senang dibacakan dongen atau cerita daripada membacanya
4)
Senang
berdiskusi dengan teman-temannya
5)
Bermain
dengan diiringi musik
6)
Bermain
teka-teki kata, seperti mengulang-ulang kalimat dan sejenisnya berulang kali.
c. Gaya
Belajar Kinestetik
Adalah
cara/model belajar dengan mengandalkan gerakannya. Anak-anak kinestetik perlu
bergerak kesana kemari untuk dapat menerima informasi dan sangat sulit untuk
diajak duduk manis di kelas bersama teman-temannya. Mereka sangat senang
berbuat usil dengan cara menyentuh atau memanipulasi obyek permainan. Lebih
dari itu mereka juga belajar atau bermain sambil berjalan, ingin mengalami
sendiri apa yang dijelaskan guru. Dalam konteks anak-anak, biasanya anak-anak
kinestetik bermain atau belajar dengan hal-hal seperti berikut:
1)
Bermain
lari, lompat, dan berjalan dengan satu kaki
2)
Membuat
alat permainan edukatif sendiri
3)
Bermain
memanjat
4)
Senang
melakukan gerakan acrobat (koprol/jungkir balik)
5)
Senang
berolahraga
6)
Mengagumi
beberapa olahragawan ternama
Setiap orang mempunyai ketiga gaya belajar ini sekaligus
dalam dirinya, tetapi tidak ada yang 100% visual saja, tidak ada anak yang 100%
auditori saja dan tidak ada anak yang gaya belajarnya 100% kinestetik semata.
Hanya saja komposisi masing-masing gaya dalam diri seseorang berbeda-beda. Ada
yang lebih dominan gaya visualnya, atau ada yang lebih dominan gaya
auditorinya. Gaya belajar yang dominan tersebut menjadi ciri khas gaya belajar
anak.
Anak-anak pada usia 0-6 tahun mempunyai kombinasi ketiga
gaya bermain atau belajar yang relative seimbang. Setelah usia ini berlalu,
keseimbangan ketiga gaya belajar tersebut menjadi berkurang. Hal ini
menunjukkan bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang paling mudah untuk
mempelajari segala hal karena ketiga gaya dapat digabungkan secara seimbang.
Jika setiap anak mengenali dengan baik gaya
bermain/belajarnya maka akan lebih mudah meraih prestasi atau keterampilan
tertentu melalui aktivitas bermainnya tersebut.
2.
Prinsip
Pembelajaran Anak Usia Dini
Terdapat
sejumlah prinsip pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, beberapa akan
dipaparkan pada bagian berikut ini diantaranya adalah:
a. Anak sebagai Pembelajar Aktif
Pendidikan hendaknya mengarahkan anak untuk menjadi
pembelajar yang aktif. Pendidikan yang dirancang secara kreatif akan
menghasilkan pembelajaran yang aktif. Anak-anak akan terbiasa belajar dan
mempelajari berbagai aspek pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan melalui
berbagai aktivitas mengamati, mencari, menemukan, mendiskusikan, menyimpulkan
dan mengemukakan sendiri berbagai hal yang ditemukan pada lingkungan sekitar.
Proses pendidikan seperti ini merupakan wujud pembelajaran yang bertumpu pada
aktivitas belajar anak secara aktif atau yang dikenal dengan istilah Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA = Student
Acvtive Learning).
CBSA adalah salah satu bentuk pembelajaran yang
diilhami oleh John Dewey (learning by
doing) dan diteruskan oleh Killpatrik dengan pengajaran proyek. Secara
harfiah, proyek mempunyai makna maksud atau rencana. Dalam suatu kegiatan
pengajaran, proyek dibicarakan antara guru dan murid secara bersama-sama dalam
rangka memahami berbagai sendi-sendi dasar pengetahuan pada berbagai bidang pengembangan.
Penyusunan suatu proyek pada dasarnya adalah merencanakan suatu pemecahan
masalah pada berbagai bidsng studi (pengembangan) yang memungkinkan murid
melakukan berbagai bentuk kegiatan mempelajari, menyimpulkan, dan menyampaikan
berbagai temuan yang dilakukan anak-anak dalam memahami berbagai pengetahuan.
Dengan demikian, bentuk pengajaran yang dilakukan guru dengan jalan menyajikan
suatu bahan pengajaran yang memungkinkan murid mengolah sendiri untuk menguasai
bahan pengajaran tersebut. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada
anak untuk aktif, mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagai
pengetahuan.
Sebagai manusia tidak dikendalikan oleh insting maupun di “cetak” oleh pengaruh
lingkungan, tetapi anak adalah seorang pengkonstruk (contructivist) yaitu seorang penjelajah yang aktif, selalu ingin
tahu, selalu menjawab tantangan lingkungan sesuai interpretasi/penafsirannya.
Ciri-ciri esensi yang ditampilkan lingkungan kontruksi awal anak tergantung
realitas (interpretasi tentang lingkungan) tergantung pada tingkat perkembangan
kognitifnya, dengan demikian perkembangan kognitif anak ditentukan oleh:
bagaimana seorang anak menanggapi kejadian-kejadian yang ada dalam
lingkungannya dan apa efek dari kejadian-kejadian tersebut terhadap perkembangan
anak.
Mentossori dalam Seldin (2004:5) menganggap bahwa
anak tidak perlu dilatih terus-menerus menulis suatu kata, karena sambil
bermaik aktif membuat huruf dan mengasir huruf itu, pada suatu saat anak
tiba-tiba mengetahui bahwa anak dapat menulis, peristiwa itu dinamakan letusan
menulis atau eksplosi menulis. Pada prinsipnya, biarkan anak mencari tahu
sesuatu dengan terlibat langsung atau melakukan praktik langsung. Tidak hanya
melalui penjelasan guru, disini guru berfungsi sebagai mediator dan fasilitator
saja. Tujuannya yaitu mengembangkan aspek kognitif anak dan dan membangun self-esteem dan self confidence anak.
Anak dapat belajar dengan baik sejak dini, karena
bila dikaji alasan pertama, yaitu agar anak dapat bersosialisasi yang merupakan
gambaran harapan orangtua agar anak lebih termotivasi mempelajari keterampilan
tertentu memlaui teman-temannya. Anak dibiarkan melakukan sesuatu, memahami
sesuatu, menilai sesuatu berdasarkan keinginannya. Pada konsep ini guru hanya
sebagai fasilitator yang mengawasi serta menuntun anak agar tetap pada
jalurnya.
Metode yang diberikan kepada anak berbentuk
pemecahan masalah dan penyampaian penemuan mereka. Pendidik hanya berfungsi
sebagai pengawas dan mediator. Dengan demikian, anak dituntut untuk aktif dan
bekerja produktif untuk menemukan pengetahuan.
Sebagai contoh adalah: anak membuat kerajinan tangan
sesuai dengan inspirasi (daya khayal) mereka sendiri, anak mengarang dan
membuat puisi sendiri, mengamati suatu tanaman dan mencari tahu apa nama
tanamannya, menemukan manfaatnya lalu mendiskusikan dan menyimpulkannya,
membuat soal cerita penjumlahan kemudian dijawab oleh temannya, anak-anak
disekolah di ajarkan untuk menyusun balok, agar menjadi suatu bangunan sesuai
dengan apa yang mereka inginkan. Dalam permainan tersebut, anak dituntut aktif
dan produktif agar bangunan mereka jadi seperti yang diinginkan, sedangkan
peran guru hanya mengawasi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Contoh lainnya, ketika bermain balok, biarkan anak
membangun gedung dengan imajinasinya sendiri, guru hanya sebatas mengamati dan
bertanya pada saat anak selesai bermain tentang bangunan apa yang telah
dibuatnya. Hindari mengajari anak untuk membangunnya, tetapi biarkan
imajinasinya berkembang sendiri sehingga otaknya dapat berkembang secara aktif.
b. Anak Belajar melalui Sensori dan
Panca Indera
Anak memperoleh pengetahuan melalui sensorinya, anak
dapat melihat melalui bayangan yang ditangkap oleh matanya, anak dapat
mendengarkan bunyi melalui telinganya, anak dapat membedakan bau melalui hidung
dan anak dapat mengetahui aneka rasa melalui lidahnya. Oleh karenanya,
pembelajaran pada anak hendaknya mengarahkan anak pada berbagai kemampuan yang
dapat dilakukan oleh seluruh inderanya.
Anak belajar melalui sensori dan panca indera menurut
pandangan dasar Mentossori yang menyakini bahwa panca indera adalah pintu
gerbang masuknya berbagai pengetahuan ke dalam otak manusia (anak), karena
perannya yang sangat strategis maka seluruh panca indera harus memperoleh
kesempatan untuk berkembang sesuai dengan fungsinya, alat-alat permainan
sederhana yang diciptakan dapat digambarkan sebagai berikut: alat permainan
indera penglihatan, alat permainan indera peraba dan perasa, alat permainan
untuk indera pendengar, dan alat permainan untuk indera penciuman. Pada sekolah
dapat digambarkan menjadi hal-hal yang menjadi kekhasan Mentossori, seperti:
ruangan, guru, cara mengajar dan bahan pengajar.
Dalam konsep ini anak mengeksploitasikan semua
inderanya baik penciuman, perasa, peraba, penglihatan dan pendengaran.
Mengamati segala hal dengan menggunakan panca indera lalu dapat menyebutkan
manfaat dari masing-masing panca indera. Anak dapat belajar berdasarkan atas
apa yang dilihat, didengar, dirasakan. Sebagai contoh dalam kegiatan bermain
dengan perabaan, anak diminta membawa bermacam-macam kain (kain yang halus
hingga kasar), lalu mereka meraba, mempelajari, serta membuat kesimpulan akhir
tentang pengamatan dan pengalaman merka masing-masing. Atau contoh lainnya anak
melakukan eksperimen tentang aneka rasa (kopi: pahit, gula: manis, garam: asin,
sambal: pedas).
c. Anak Membangun Pengetahuan Sendiri
Menurut Pestalozzi dalam Soejono (1998:32),
pendidikan pada hakikatnya usaha pertolongan (bantuan) pada anak agar anak
mampu menolong dirinya sendiri yang dikenal “Hilfe Zur Selfbsthilfe”; Pestalozzi berpandangan, pengamatan
seorang anak pada sesuatu akan menimbulkan pengertian, bahkan pengertian yang
tanpa pengamatan merupakan sesuatu pengertian yang kosong.
Sejak lahir anak diberi berbagai kemampuan. Dalam
konsep ini anak dibiarkan belajar melalui pengalaman-pengalaman dan pengetahuan
yang dialaminya sejak anak lahir dan pengetahuan yang telah anak dapatkan
selama hidup. Konsep ini diberikan agar anak dirangsang untuk menambah
pengetahuan yang telah diberikan melalui materi-materi yang disampaikan oleh
guru dengan caranya sendiri, antar lain dengan:
1) Anak
diberikan fasilitas yang dapat menunjang untuk membangun pengetahuannya
sendiri.
2) Anak
diajak untuk berpikir, percaya diri dan kreatif dalam mencari dan mendapatkan
pengetahuan yang mereka ingin dapatkan. Pendidik dan orang tua hanya berfungsi
sebagai fasilitator atau tempat anak bertanya-tanya.
3) Setiap
anak diharapkan dapat menambah dan membangun pengetahuannyasendiri melalui
media cetak dengan studi literature (kunjungan ke perpustakaan), media
elektronik baik browsing internet
maupun menonton VCD pengetahuan.
d. Anak Berpikir melalui Benda
Kongkret
Dalam konsep ini anak harus diberikan pembelajaran
dengan benda-benda yang nyata agar anak tidak menerawang atau bingung.
Maksudnya adalah anak dirangsang untuk berpikir dengan metode pembelajaran yang
menggunakan benda nyata sebagai contoh materimateri pelajaran. Terciptanya
pengalaman melalui benda nyata diharapkan anak lebih mengerti maksud dari materimateri yang diajarkan oleh
guru.
Anak lebih mengingat suatu benda yang dapat dilihat,
dipegang lebih membekas dan dapat diteriman oleh otak dalam sensasi dan memory
(long tern memory dalam bentuk
symbol-simbol).
Pada kegiatan ini anak diharapkan dapat berpikir
melalui media (benda-benda kongkret) atau yang terdekat dengan anak secara
langsung. Anak usia dini dapat menyerap pengalaman dengan mudah melalui
benda-benda yang bersifat kongkret (nyata). Oleh karena itu, sebaiknya
menggunakan media yang nyata untuk memberikan pembelajaran terhadap anak.
Sebagai contoh, apabila menjelaskan tentang
benda-benda yang ada di alam lebih baik anak dibawa langsung ke lokasi agar
bdapat melihat, mengamati dan menikmati keadaan alam tersebut dan dapat melihat
berbagai bentuk daun, pohon, buah-buahan dan sebagainya. Atau dalam kegiatan
pembelajaran tentang bilangan pecahan dengan cara memotong pizza menjadi 8
bagian, membelah apel menjadi dua, memotong roti menjadi 4 bagian.
Menurut Lighart dalam Soejono (1998:75-76), langkah
dalam pengajaran dengan barang sesungguhnya beserta contohnya adalah sebagai
berikut:
1) Menentukan
sesuatu yang menjadi pusat minat anak. Missal: buah jeruk yang dijadikan tema
yang dibahas.
2) Melakukan
perjalanan sekolah. Missal: Field Trip
ke Taman Buah Mekarsari, Jonggol untuk melihat tanaman jeruk.
3) Pembahasan
hasil pengamatan. Misal: tanaman jeruk diambil buahnya untuk dijual atau dibuat
minuman.
4) Menceritakan
lingkungan yang diamati. Missal: mengamati kegiatan petani jeruk sebagai
produsen, pedagang buah jeruk sebagai mengrajin (penyalur) dan orang-orang yang
membeli sebagai konsumen.
5) Kegiatan
ekpresi. Missal: kegiatan ekspresi digambarkan pada bagian jarring laba-laba (spider web).
e. Anak Belajar dari Lingkungan
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan
sengaja dan terencana untuk membantu anak mengembangkan potensi secara optimal
sehingga anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Pengertian tersebut
mengandung makna bahwa esensi yang hakiki dari tujuan akhir pendidikan adalah
kemampuan anak melakukan adaptasi dengan lingkungan dalam arti yang luas.
Dengan demikian tujuan pendidikan seharusnya menjadi dasar untuk mengarahkan
berbagai proses pendidikan (pembelajaran) agar mendekatkan anak dengan
lingkungan. Dengan demikian pendidikan yang diberikan akan dapat dimaknai dan
berguna bagi anak ketika beradaptasi dengan lingkungannya.
Alam sebagai sarana pembelajaran. Hal ini didasarkan
pada beberapa teoripembelajaran yang menjadikan alam sebagai sarana yang tak
terbatas bagi anak untuk bereksplorasi dan berinteraksi dengan alam dalam
membangun pengetahuannya. Out bound
learning merupakan salah satu model pembelajaran di mana hampir 90%
kegiatan dilakukan dengan berinteraksi dengan alam tanpa ada kekangan. Dalam
pembelajaran ini anak diajarkan untuk dapat membangun ikatan emosional di
antara individu (anak) yaitu dengan menciptakan kesenangan belajar, menjalin
hubungan dan memengaruhi memori dan ingatan yang cukup lama akan bahan-bahan
yang telah dipelajari.
Vaquette (1983:67) mengemukakan bahwa terdapat tiga
aspek penting dalam alam yaitu:
1) Alam
merupakan ruang lingkup untuk menemukan kembali jati diri secara kolektif dan
menyusun kembali kehidupan sosial.
2) Alam
merupakan ruang lingkup yang dapat di eksplorasi.
Jika anak-anak tidak mengenal lokasi
kegiatannya, makan anak akan menggunakan sebagian besar waktu yang tersedia
untuk mengetahui apa kira-kira yang akan mereka kerjakan di tempat itu.
3) Peranan
pendidik di lokasi kegiatan
Seorang paedagog harus sekaligus menjadi
pengajar, pendidik, serta membimbing kegiatan. Sebagai pengajar yang baik harus
dapat memberikan pengetahuan yang dapat diterapkan oleh para muridnya.
D.
Aktivasi
Otak Pada Pembelajaran Anak
Dalam perspektif pendidikan anak usia
dini, secara umum otak dapat dibedakan menjadi yaitu otak rasional, otak
emosional, dan otak spiritual. Otak rasional (IQ) tidak akan maksimal tanpa
peran otak emosional (EQ) dan otak spiritual (SQ). Dalam kajian neurosains
dapat diinterpretasikan bahwa bermain dapat menstimulasi aktivasi otak rasional
(IQ), bernyanyi (musik dan seni) dapat menstimulasi aktivasi otak emosional
(EQ) dan bercerita atau sosiodrama, khususnya kisah-kisah agung spiritual dapat
menstimulasi aktivasi otak spiritual (SQ).
Orang awam pada umumnya akan memandang
kegiatan apapun yang dilakukan anak-anak PAUD adalah bermain semata. Bagi para
guru dan orang yang mengetahui teori perkembangan anak kegiatan yang dilakukan
anak adalah belajar.
Permainan edukatif dapat didesain
sedemikian rupa sehingga dapat menstimulasi perkembangan otak anak khususnya
otak rasionalnya. Dengan meningkatkan aktivitas di dalam otak rasionalnya,
kerja otak anak semakin kompleks dan kecerdasannya akan meningkat.
1.
Makna
Belajar melalui Bermain Bagi anak
Mengutip
pernyataan Mayesty (1990: 196-197) bagi sesorang anak, bermain adalah kegiatan
yang mereka lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan
hidup adalah permainan. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar
dan bekerja. Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus
menerus melakukannya dimanapun mereka memiliki kesempatan; sehingga bermain
adalah salah satu cara anak usia dini belajar, karena melalui bermainlah anak
belajar tentang apa yang ingin mereka ketahui dan pada akhirnya mampu mengenal
semua peristiwa yang tejadi di sekitarnya.
Piaget dalam Mayesty
(1990: 42) mengatakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan
berulang ulang dan menimbulkan kesenangan/kepuasan bagi diri seseorang;
sedangkan Parten memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi,
diharapkan melalui bermain dapat member kesepakatan anak bereksplorasi,
menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan
(Mayesty: 61-62). Selain itu kegiatan bermain dapat membantu anak mengenal
tentang dirinya sendiri, dengan siapa ia hidup serta lingkungan tempat di mana
ia hidup.
Semua anak
senang bermain, setiap anak tentu saja sangat menikmati permainannya, tanpa
terkecuali. Melalui bermain anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya
dan dapat menjadi lebih dewasa. Untuk lebih memahami hakikat bermain, berikut
terlebih dahulu akan diuraikan beberapa pendapat para ahli tentang bermain.
Buhler dan
Danziger dalam Roger dan Sawyers (1995: 95), berpendapar bahwa bermain adalah
kegiatan yang menimbulkan kenikmatan; sedangkan Freud menyakini bahwa walaupun
bermain tidak sama dengan bekerja tetapi anak menganggap bermain sebagai
sesuatu yang serius.
Docket dan Fleer
(2000:41-43) berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena
melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan
kemampuan dirinya. Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas dan sangat
berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan
dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.
Vygotsky dalam
Naughton (2003:46) percaya bahwa bermain membantu perkembangan kognitif anak
secara langsung, tidak sekadar sebagai hasil dari perkembangan kognitif seperti
yang dikemukakan oleh Piaget. Ia menegaskan bahwa bermain simbolik memainkan
peran yang sangat penting dalam perkembangan berpikir abstrak. Sejak anak mulai
bermain pura-pura, maka anak menjadi mampu berpikir tentang makna-makna objek
yang mereka representasikan secara independen.
Berhubung dengan
pembelajaran, Vygotsky dalam Naughton (2003:52) berpendapat bahwa bermain dapat
menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak. Dalam bermain, anak
selalu berperilaku di atas usia rata-ratanya, di atas perilakunya sehari-hari,
dalam bermain anak dianggap ‘lebih’ dari dirinya sendiri.
Selanjutnya
dijelaskan terdapat dua ciri utama bermain, yaitu pertama semua aktivitas
bermain representasional menciptakan situasi imajiner yang memungkinkan anak
untuk menghadapi keinginan-keinginan yang tidak dapat direalisasikan dalam
kehidupan nyata, dan kedua bermain representasional memuat aturan-aturan
berperilaku yang harus diikuti oleh anak untuk dapat menjalankan adegan
bermain.
Irawati
berpendapat bahwa bermain adalah kebutuhan semua anak, terlebih lagi bagi
anak-anak yang berada di rentang usia 3-6 tahun. Bermain adalah suatu kegiatan
yang dilakukan anak dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan
pengertian dan memberikan informasi, member kesenangan dan mengembangkan
imajinasi anak spontan dan tanpa beban. Pada saat pembelajaran berlangsung
hampir semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan berkembang dengan
baik termasuk didalamnya perkembangan kreativitas.
Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Catron dan Allen
(1999:21) yang mengemukakan bahwa bermain dapat memberikan pengaruh secara
langsung terhadap semua area perkembangan. Anak-anak dapat mengambil kesempatan
untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Selain
itu, pembelajaran juga memberikan kebebasan pada anak untuk berimajinasi,
bereksplorasi dan menciptakan suatu bentuk kreativitas. Anak-anak memiliki
motivasi dari dalam dirinya untuk bermain, memadukan sesuatu yang baru dengan
apa yang telah diketahui.
Pembelajaran
pada anak usia dini dipengaruhi oleh kemampuan baik secara fisik, kognitif,
bahasa, sosial emosional ataupun ketrampilannya. Untuk itu bermain dapat
diklasifikasikan berdasarkan kemampuan anak, seperti yang di bawah ini:
Klasifikasi
Bermain
|
Tujuan
|
Kegiatan
|
1. Bermain Eksploratoris
|
· Memberi kesempatan kepada anak untuk menemukan hal
baru
·
Merangsang rasa ingin tahu anak
·
Membantu mengembangkan ketrampilannya
·
Mendorong anak mempelajari keterampilan anak
|
Berkeliling
/menjelajah, berekplorasi dengan dunia yang lebih luas
|
2. Bermain Energetik
|
·
Membantu menjadi penjelajah aktif dalam
lingkungannya
·
Membantu anak mengendalikan tubuhnya
·
Membantu mengkoordinasikan bagian yang berbeda
pada tubuh
|
Memanjat,
melompat, bermain bola
|
3.
Bermain Keterampilan
|
·
Membantu
anak untuk menjadi pembangun
·
Dapat mengurangi keputusasaan
·
Mengarah pada kebergunaan dan kemandirian
·
Mengembangkan keterampilan baru dan percaya diri
·
Belajar melalui memegang langsung bahan
|
Menggenggam,
memegang benda, melukis, mencocokkan gambar
|
4.
Bermain Sosial
|
·
Sebagai sarana bagi anak untuk belajar dari orang
lain
·
Mengembangkan kemampuan anak untuk berkomunikasi
·
Bersosialisasi
·
Mengembangkan persahabatan
|
Permainan
luar ruangan/outdoor (olahraga)
|
5.
Bermain Imajinatif
|
·
Mengambangkan kemampuan berfikir dan bahasa
·
Membantu anak memahami orang lain
·
Membantu anak mengembangkan kreativitas
·
Membantu anak mengenal dirinya sendiri
|
Bermain
peran/role play,
|
6.
Bermain Teka teki
|
·
Mengembangkan kemampuan anak dalam berfikir
·
Mendorong rasa ingin tahu anak
·
Mengembangkan kemandirian pada anak
|
Bermain
puzzle
|
2. Bernyanyi
(Musik) dan Otak Emosional (EQ)
Menyanyi adalah jenis musik paling awal. Musik
adalah bagian dari seni. Jadi antara seni, musik dan menyanyi merupakan tiga
aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Musik termasuk bernyanyi memberikan efek
pada otak dengan cara menstimulasi intelektual dan emosional. Musik juga
mempengaruhi fisik dengan cara mengubah kecepatan detak jantung, system
pernapasan, tekanan darah dan gerakan otot.
Musik
dapat digunakan untuk menstimulasi memori atau daya ingat anak usia dini. Artinya,
di dalam otak anak (bayi) terdapat area tertentu yang menjadi basis neurologis
pengolahan music. Misalnya pada cortex
auditori terdapat area yang disusun untuk memproses nada dan suara. Selain
itu kemampuan otak untuk merespon musik secara emosional berhubungan dengan
biologi dan budaya. Aspek-aspek biologis didukung oleh fakta bahwa otak
memiliki area terspesialisasi yang secara khusus merespon musik yang kemudian
secara otomatis memicu respons emosional.
Periode
empat hingga enam tahun merupakan periode untuk pematangan yang sangat
menggairahkan. Pada usia ini kemampuan anak untuk bergerak dan bernyanyi
mengikuti irama dan mengekspresikan seni sedang tumbuh dengan pesat.
Stimulasi
area saraf tergantung dari jenis musiknya. Nada melodi menstimulasi area-area
yang membangkitkan perasaan senang, sedangkan suara-suara sumbang mengaktifkan
area limbik lainnya yang memproduksi
emosi buruk.
Efek
mendengarkan musik berbeda dengan efek bermain musik karena otak merespon
secara berbeda atas dua kegiatan yang berbeda. Efek mendengarkan musik adalah
1) Sel-sel otak menjadi lebih sensitif terhadap bunyi-bunyi penting dan
nada-nada musical yang esensial sehingga semakin banyak sel-sel saraf yang
saling berkoneksi dan semakin cerdas otak anak dibuatnya; 2) musik bisa
diimajinasikan, makanya banyak orang yang begitu mudah hafal lagu dan musiknya;
3) musik mempunyai efek terapis (mampu meningkatkan fungsi-fungsi imunitas pada
anak). Sedangkan efek bermain musik adalah 1) menstimulasi gerak motoric halus;
2) bermain musik dapat menghasilkan perubahan-perubahan struktur otak yang kuat
dan permanen; 3) meningkatkan memori kerja; 4) mengaktifkan area-area otak; dan
5) meningkatkan kemampuan berhitung pada anak secara signifikan
3. Cerita
Anak (Dongeng) dan Otak Spritual
Cerita
(dongeng) sebagai media pembelajaran anak semakin mendapatkan posisi yang
strategis karena mengingat bahwa semua anak senang dengan cerita, sebagaimana
mereka senang dengan musik dan bermain. Cerita mampu menstimulasi imajinasi
anak---ingat, bahwa otak tidak bisa membedakan antara imajinasi dan realitas,
sehingga anak-anak benar-benar merasa terlibat dalam cerita yang dibacakan
kepadanya.
Cerita
yang bernuansa agama dan mempunyai pesan-pesan moral untuk berbuat baik akan
menanamkan rasa beragama atau spiritualitas sejak dini. Yang terpenting adalah
kekuatan imajinasi anak yang dapat dengan mudah menembus dimensi spiritualitas
hanya dengan sebuah cerita.
Dengan cerita (dongeng),
anak juga belajar tentang bahasa (bahasa lisan dan bahasa kedua), karena cerita
anak erat kaitannya dengan suara atau bahasa. Semua pakar pendidikan sepakat
bahwa cerita merupakan media pembelajaran bahasa yang sangat kaya dan mampu
mencerdaskan otak anak. Salah satu alasannya adalah karena struktur kalimat
dalam dongeng jauh lebih kompleks (suara berbagai macam binatang, manusia
dengan berbagai usia (nenek-bnenek, anak-anak) dan lain-lain); anak menguasai
bahasa lisan, bahasa lisan ini mempengaruhi sejauhmana anak berkemampuan
membaca; anak dapat mempelajari dua bahasa sekaligus yaitu bahasa ibu dan
bahasa asing dari pada media yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar