Anak-anak jaman sekarang cukup beruntung karena memiliki orang tua yang memiliki handphone, dan orang tua yang punya handphone cenderung
memberikan untuk anak dengan tujuan memudahkan komunikasi
seputar jam pulang sekolah, tugas sekolah, untuk mengetahui lokasi anak
ketika mereka sedang tak berada di rumah, dll. Sekarang, mulai dari anak kecil, remaja, tukang koran, tukang becak, tukang ojek, pebisnis, rata-rata memiliki HP. Hp menjadi sebuah kebutuhan yang primer, padahal kalau kita lihat dulu, HP hanyalah sebuah kebutuhan tersier.
HP menjadi fenomena yang umum bagi anak sekolah, bahkan untuk kalangan anak-anak yang orang tua nya lebih mampu, anak-anaknya ‘wajib’ menggunakan Blackberry. Kalau tidak pakai BB, berarti ga gaul, begitulah kira-kira komentar anak-anak. Hal ini tidak terlepas dari orang tua yang sibuk juga. Orang tua beralasan dengan memberikan HP untuk anaknya, maka anak-anaknya akan selalu bisa dipantau, sedang ada dimana, dengan siapa, sudah makan atau belum, jangan lupa buat PR, dst. Memang hal ini tidak salah, HP membuat jarak bukan jadi penghalang dan memudahkan segala
sesuatunya. Tapi akhir-akhir ini sangat marak cyber bullying atau yang dikenal dengan kekerasan lewat internet atau HP. Untuk anak-anak yang ingin ‘mengancam’ atau ‘menteror’ teman atau adik kelasnya dapat menggunakan HPnya. Mereka mengirimkan sms atau bbm dengan tulisan yang menjelek-jelekkan orang tertentu dengan tujuan menjatuhkan orang tersebut. Belum lagi di banyak media massa yang melaporkan penggunaan HP untuk pornografi. Jadi sebenarnya, perlu tidak
HP untuk anak-anak?
sesuatunya. Tapi akhir-akhir ini sangat marak cyber bullying atau yang dikenal dengan kekerasan lewat internet atau HP. Untuk anak-anak yang ingin ‘mengancam’ atau ‘menteror’ teman atau adik kelasnya dapat menggunakan HPnya. Mereka mengirimkan sms atau bbm dengan tulisan yang menjelek-jelekkan orang tertentu dengan tujuan menjatuhkan orang tersebut. Belum lagi di banyak media massa yang melaporkan penggunaan HP untuk pornografi. Jadi sebenarnya, perlu tidak
HP untuk anak-anak?
Namun, para orang tua sebaiknya perlu berpikir ulang terkait
fasilitas bernama handphone untuk anak. Seberapa efektifkah penggunaan
handphone untuk anak? Apakah ponsel, apalagi yang jenis smartphone plus
segala kecanggihannya tidak membuat anak terlena dan melupakan tugasnya
untuk belajar? Apa saja yang dilakukan anak dengan ponselnya? apakah
mereka terlibat pembicaraan atau berkirim pesan yang kurang pantas
dengan teman-temannya, atau bahkan seseorang yang baru dikenalnya? Berikut hal-hal yang harus diketahui orangtua sebelum memberikan
handphone untuk anak:
1. Jenis perangkat
Ketika berencana memberi handphone untuk anak, pilihlah tipe ponsel yang ‘biasa-biasa saja’. Hindari memberikan smartphone jenis terbaru, apalagi yang merupakan keluaran terbaru dan super canggih. Ini bertujuan agar tujuan memfasilitasi handphone untuk anak tidak berubah jadi bumerang, dan malah menjadikan mereka sebagai sasaran tindak kejahatan. Jika anak ‘merayu’ untuk membelikannya gadget terbaru, minta ia memakai ponsel lain untuk dibawa ke sekolah dan larang anak membawa gadget mewahnya ke sekolah.
Ketika berencana memberi handphone untuk anak, pilihlah tipe ponsel yang ‘biasa-biasa saja’. Hindari memberikan smartphone jenis terbaru, apalagi yang merupakan keluaran terbaru dan super canggih. Ini bertujuan agar tujuan memfasilitasi handphone untuk anak tidak berubah jadi bumerang, dan malah menjadikan mereka sebagai sasaran tindak kejahatan. Jika anak ‘merayu’ untuk membelikannya gadget terbaru, minta ia memakai ponsel lain untuk dibawa ke sekolah dan larang anak membawa gadget mewahnya ke sekolah.
2. Kenalkan efek negatif memiliki HP
Anak harus dikenalkan mengenai efek negatif dari kepemilikan HP. Misalnya, penggunaan pulsa yang berlebihan, cyber bullying, penggunaan internet untuk mengakses situs-situs pornografi, terlalu
kecanduan BBM sehingga lupa untuk mengerjakan PR, belajar untuk ulangan, resiko kehilangan jika menyimpan HP sembarangan, dsb.
kecanduan BBM sehingga lupa untuk mengerjakan PR, belajar untuk ulangan, resiko kehilangan jika menyimpan HP sembarangan, dsb.
3. Operator seluler yang sama
Karena anak belum bekerja, otomatis orangtualah yang harus membelikan
pulsa agar ia dapat menggunakan ponselnya. Usahakan agar nomor ponsel orangtua dan anak berasal dari operator
seluler yang sama agar lebih hemat dalam hal pemakaian pulsa. Tanamkan
pengertian pada anak untuk hanya menelepon teman yang memiliki nomor
ponsel dari operator yang sama, dan hanya mengirim pesan (SMS) pada
teman yang memiliki nomor ponsel dari operator yang berbeda.
Jika alasan anak adalah untuk bisa lebih mudah mengontak teman-temannya, sebenarnya masih bisa menggunakan telepon rumah, atau menggunakan HP orang tuanya, sehingga penggunaan HP bisa
dipantau oleh orang tua.
dipantau oleh orang tua.
4. Batasi penggunaannya
Ada baiknya orangtua menetapkan jam tertentu pemakaian handphone untuk
anak, bahkan ketika ia menggunakannya untuk bermain game. Jangan buat
anak menjadi anti sosial dengan membiarkannya asyik bermain dengan ponsel
pada jam biasanya ia bermain dengan teman-teman di sekitar rumah,
apalagi di jam belajar! Katakan pada anak untuk tidak menggunakan ponsel ketika ia
sedang berada seorang diri di depan sekolah, di jalan maupun di dalam
angkutan umum.
5. Selalu mengecek
Jangan lupa untuk selalu memeriksa ponsel anak setiap ia pulang
sekolah, atau ketika ia sudah pergi tidur. Hal ini agar orangtua mengetahui
apa saja yang telah dilakukan anak selama seharian dengan gadgetnya.
Adakah konten mencurigakan atau aplikasi tak wajar atau SMS tak senonoh
di dalamnya?
Jika orangtua curiga karena tak menemukan apa-apa, kita dapat googling
di internet untuk mencari semacam software untuk memunculkan kembali
apa-apa yang telah terhapus dari ponsel, termasuk dari handphone anak. Instal program data manager untuk memantau penggunaan HP sehingga semua pemakaian pada HP anak bisa dipantau dan dilihat oleh orang tua.
Terlepas dari penting atau tidaknya anak memiliki HP, kembali lagi disarankan pada semua orang tua untuk lebih bijak dalam menerangkan pada anak mengenai penggunaan HP, jangan sampai hanya demi alasan kepraktisan, ternyata anak malah jadi dirugikan perkembangan moralnya karena penggunaan yang salah dari teknologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar