Jumat, 17 Februari 2017

JARDIKNAS Wahana pemanfaatan TIK untuk Pendidikan di Indonesia




 Kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau yang biasa disebut Information dan Comunication Technology (ICT) dalam kehidupan modern memiliki dampak yang signifikan terhadap cara kita hidup terlebih di dalam dunia pendidikan. Ada kesadaran yang luas bahwa perkembangan ini memiliki implikasi yang mendalam untuk pendidikan dalam rangka menuju perubahan. Karena pada dasarnya semua ingin meningkatkan kualitas dan efektifitas proses pembelajaran, dan salah satu sarana yang bisa dipakai adalah melalui ICT.
Sejalan dengan program pengembangan infrastruktur ICT, pada tahun 2006 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Mandikdasmen Depdiknas membangun infrastruktur jaringan online skala nasional untuk kebutuhan interkoneksi antar sekolah (Zona Sekolah) di setiap wilayah Kota/Kabupaten se-Indonesia. Dalam perkembangannya, infrastruktur jaringan online tersebut juga dihubungkan ke seluruh kantor Dinas Pendidikan Provinsi dan Kota/Kabupaten se-Indonesia sebagai simpul lokal JARDIKNAS di daerah (Zona Kantor Dinas). Dimana setiap kantor dinas pendidikan (sebagai simpul lokal) tersebut berkewajiban untuk mendistribusikan koneksi JARDIKNAS ke sekolah-sekolah termasuk Sekolah Menengah Kejuruan yang berfungsi sebagai ICT Center di daerah masing-masing.
Jejaring Pendidikan Nasional (JARDIKNAS) merupakan infrastruktur jaringan skala nasional yang menghubungkan seluruh institusi/lembaga pendidikan, kantor dinas pendidikan tingkat provinsi/kota/kabupaten, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Sejalan dengan program JARDIKNAS, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti Depdiknas) juga turut mengembangkan infrastruktur jaringan skala nasional khusus antar perguruan tinggi yang disebut INHERENT (Indonesia Higher Education Network).

INHERENT merupakan jaringan Perguruan Tinggi Indonesia, yaitu jaringan teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan setiap perguruan tinggi di Indonesia. Jaringan ini dirancang untuk akan menghubungkan seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia pada masa yang akan datang. Pada awalnya jaringan ini dimulai dengan menghubungkan 32 perguruan tinggi yang berlokasi di setiap propinsi di Indonesia, dan Dikti Jakarta. Perguruan-perguruan tinggi ini mengelola simpul-simpul lokal, dimana simpul lokal tersebut mendistribusikan koneksi atau aksesnya ke perguruan tinggi lain di wilayah masing-masing dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada Dikti. Perguruan Tinggi yang bukan merupakan simpul lokal dapat terhubung ke INHERENT dengan mengajukan permohonan tertulis kepada simpul lokal terdekat yang tersebar di seluruh Propinsi yang ditembuskan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Koneksi Inherent diutamakan untuk kepentingan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, Inherent terbuka bagi koneksi dengan institusi riset dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah (Pemda/Pemkot/Pemprop) baik tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten kota dapat memanfaatkan atau bergabung dengan INHERENT. Pemanfaatan ini khususnya untuk menunjang program-program pendidikan yang ada di masing-masing Pemda/Pemkot/Pemprop.
Pada bulan Maret 2007, infrastruktur JARDIKNAS diresmikan oleh Bapak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara pembukaan konferensi regional antar Menteri Pendidikan se Asia Tenggara di Bali (SEAMEO – South East Asian Ministry Of Education).
Akhir Mei 2007, Komisi X DPR RI melakukan evaluasi terhadap program Teknologi Informasi dan Komunikasi di lingkungan Depdiknas. Hasil evaluasi tersebut mengamanahkan untuk mengintegrasikan secara utuh keberadaan infrastruktur jaringan online di lingkungan DEPDIKNAS (JARDIKNAS dan INHERENT) agar berjalan dengan lebih efektif dan efisien.
Pada Agustus 2007 program integrasi tersebut secara resmi menggunakan satu istilah saja yaitu: JARDIKNAS (Jejaring Pendidikan Nasional). Dimana infrastruktur INHERENT yang sebelumnya berdiri sendiri, sekarang telah terintegrasi secara utuh bagian dari JARDIKNAS (zona Perguruan Tinggi). Secara umum pada Jardiknas dibagi menjadi 4 (empat) zona jaringan yang didasarkan pada kondisi geografis, ketersediaan teknologi, skala kebutuhan, fungsi dan manfaat program Jardiknas untuk setiap institusi dan komunitas pendidikan yaitu:
1.   Zona Kantor Dinas Pendidikan/Institusi (DiknasNet)
Meliputi: kantor-kantor dinas pendidikan baik di tingkat pusat, propinsi hingga kota/kab.
Fungsi utama Jardiknas pada zona Kantor Dinas/Institusi sebagai media untuk transaksi data online sistem informasi administrasi dan manajemen pendidikan.
2.   Zona Perguruan Tinggi (INHERENT)
Meliputi: seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Fungsi utama Jardiknas pada zona Perguruan Tinggi sebagai media untuk riset dan pengembangan IPTEKS serta pembelajaran elektronik berbasi Teknologi Informasi dan Komunikasi. 
3.   Zona Sekolah (SchoolNet)
Meliputi: seluruh sekolah formal maupun non formal baik negeri maupun swasta di seluruh jenjang (TK, SD, SLTP, SLTA).
Fungsi utama Jardiknas pada zona Sekolah sebagai media akses informasi dan pengetahuan serta pembelajaran elektronik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.
4.   Zona Persona/ Guru dan Siswa (TeacherNet and StudentNet)
Meliputi: akses personal untuk Guru, Dosen, Karyawan, Siswa dan Mahasiswa di institusi pendidikan se-Indonesia.
Fungsi utama Jardiknas pada zona Personal/Guru dan Siswa sebagai media komunikasi dan akses informasi pendidikan. 

Tujuan dan fungsi utama Jaringan Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pemanfaatan TIK dalam pendidikan  juga diharapkan dapat memacu penggunaan sumber daya secara bersama, baik berupa sumber daya informasi (perpustakaan digital, pangkalan data), sumber daya komputasi (komputer atau piranti elektronik lainnya yang terhubung pada jaringan), dan sumber daya manusia. Penerapan JARDIKNAS antara lain untuk video conference atau video streaming (yang memerlukan bandwith dan akses internet tinggi), e-learning, termasuk juga penyebaran file ISO dan repository distribusi (distro) GNU/Linux dan FOSS. Pembelajaran semacam ini dapat diintegrasikan sebagai bagian integral dari kurikulum akademik dan pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar